Hidupku rasanya seperti kacang yang terbungkus kulit. Sempurna terlihat baik dari luar, tapi siapa yang tahu dalamnya berantakan? Banyak yang bilang aku ini pinter, tau memanfaatkan celah peluang, beruntung dalam pekerjaan, tapi sebenarnya nggak ada yang tahu betapa semuanya nggak berarti waktu kita menyadari kalau ternyata kita nggak bisa membuat pasangan kita bahagia.
Hari ini aku menyadari betapa aku terlalu egois, terlalu sibuk dengan duniaku dan perasaanku sampai-sampai aku nggak ngerti sedikitpun apa yang terjadi dengannya. Aku sedih waktu menyadari ini. Rasanya bodoh banget dan nggak berguna. Jadi selama ini aku nggak pernah bisa memahami perasaannya. Hanya fokus pada hal-hal yang menenangkan perasaanku saja, bukan dia. Aku bodoh...
Waktu dia sedang kesusahan dimana aku? Tidur. Ya, tidur karena sudah lelah dengan duniaku. Ketika dia butuh dimengerti, dimana aku? Aku sibuk bertanya kenapa begini kenapa begitu. Bodoh kan? Aq sedih nggak bisa jadi orang yang bisa menyenangkan dia... sedih sekali..
Tentang kegelisahan, tentang kegembiraan, tentang cinta, tentang isi hati
Monday, December 27, 2010
Sunday, November 21, 2010
Profesional?
Menurutku, bekerja jadi pegawai ya memang resikonya ditarget, disuruh-suruh, dimarahi, atau apapun yang mungkin kita nggak suka. Kalau nggak mau ya sudah jangan pernah jadi pegawai. Soal idealisme mungkin agak susah diperjuangkan kalau jadi pegawai, tapi nggak ada salahnya ditunjukkan kalau ada kesempatan.
Tulisan ini aku bikin karena aku geram dengan ulah seorang teman kantor yang resign minggu depan. Resign menurutku adalah hak setiap orang, masalahnya adalah ketika kamu sudah berkerja begitu lama, diberikan banyak banyak rezeki melalui perusahaan ini, bahkan diberikan jodoh lewat perusahaan ini, sekarang ketika resign malah menjelek-jelekkan sana-sini bahkan nggak mau ngajari calon penggantinya. Apa itu etis? Okelah mungkin si Teman ini kecewa dengan kebijakan bos. Tapi apa ini yang namanya profesional?
Baiklah teman, sekali lagi, jadi pegawai itu memang begitu deritanya, tapi bukan begitu cara mengakhiri yang baik. Bukannya saya membela bos atau apa, tapi setidaknya tunjukkan profesionalisme. Maaf kalau aku jadi kurang respek denganmu karena hal ini. Good luck...
Monday, November 15, 2010
Thursday, October 14, 2010
Jakarta Tak Lagi Di Hati
Setelah sekian lama aku nggak ke Jakarta, akhirnya minggu ini dapat kesempatan jaga pameran di Jakarta. Sesaat, seneng rasanya kalau di kota ini, seperti ada ikatan masa lalu yang tertinggal, soalnya aku masih menyimpan cita-cita untuk punya karir di sini.
5 tahun berselang dan kembali ke Jakarta aku masih excited. Tapi perasaan itu nggak lama, begitu keluar bandara langsung ambyar semua. Macet sana-sini, semrawut sana-sini, ah... lama-lama menguap juga cita-cita itu. Better aku tetap di Surabaya saja
Thursday, September 9, 2010
Masih Ada Patrol Sahur
Yippie... yipie... puasa hilang, lebaran datang...
Puasa itu buat aku ibaratnya sebuah tradisi yang paling memorable sepanjang hidup. Kapan lagi ada patrol keliling kampung yang bangunin warga kalo nggak pas puasaan, trus kapan lagi kita bisa mudik rame-rame kalo nggak pas puasa, kapan lagi juga kita bisa kirim-kirim kartu ucapan yang lucu-lucu kalau nggak pas puasa? Mudik juga pas puasa. Ah banyak deh pokoknya.
Tapi itu dulu teman-teman.
Dunia sekarang sudah berubah. Entah kenapa sejak beberapa tahun belakangan aku makin jarang denger patrol di lingkungan rumah. Alhasil, sering sahur mepet imsak. Lalu kemana kegaduhan itu sekarang? Sebenarnya kegaduhan itu makin dekat dengan kita tanpa disadari. Pindah ke dalam rumah kita sendiri, bahkan dalam kamar kita sendiri. Kegaduhan itu pindah ke sebuah alat yang namanya handphone, PDA, Blackberry ato apalah itu. Coba deh buka facebook, twitter, plurk, kalo pas lagi sahur. Mereka pada ribut. Ada yang bangunin temennya, ada yang bingung masak apa, ada yang tanya menu hari ini, bahkan ada yang main tebak-tebakan.Ribut di dunia mereka sendiri-sendiri.
Kupikir perubahan dunia ini juga menyentuh kota sekecil Blitar, 120 km dari Surabaya. Tapi ternyata tidak sodara-sodara, disini tetap ada patrol. Tapi lagi-lagi teknologi merubah partol yang dulu berjalan kaki pakai kentongan bambu. Sekarang mereka naik truk, bawa sound sistem gede dan... nyetel dangdutan!! Oh gosh... Aku yang lagi enak-enak tidur langsung njingkat.. kaget setengah mati. Bukan itu aja, masih ditambah pesta mercon yang rasanya gede-gede. Kegaduhan dalam arti sebenarnya selama 2 jam itu sukses bikin aku kancilen alias nggak bisa tidur lagi sampai pagi.
Eniwei, gimanapun caranya, ramadhan tetaplah ramadhan yang penuh suka cita dan disambut dengan berbagai cara. Dan saat meninggalkannya, kita disambut Idul Fitri yang selalu dinantikan. Selamat Idul Fitri, Mohon Maaf Lahir dan batin :)
Subscribe to:
Posts (Atom)
