Pages

Sunday, November 21, 2010

Profesional?

Menurutku, bekerja jadi pegawai ya memang resikonya ditarget, disuruh-suruh, dimarahi, atau apapun yang mungkin kita nggak suka. Kalau nggak mau ya sudah jangan pernah jadi pegawai. Soal idealisme mungkin agak susah diperjuangkan kalau jadi pegawai, tapi nggak ada salahnya ditunjukkan kalau ada kesempatan.

Tulisan ini aku bikin karena aku geram dengan ulah seorang teman kantor yang resign minggu depan. Resign menurutku adalah hak setiap orang, masalahnya adalah ketika kamu sudah berkerja begitu lama, diberikan banyak banyak rezeki melalui perusahaan ini, bahkan diberikan jodoh lewat perusahaan ini, sekarang ketika resign malah menjelek-jelekkan sana-sini bahkan nggak mau ngajari calon penggantinya. Apa itu etis? Okelah mungkin si Teman ini kecewa dengan kebijakan bos. Tapi apa ini yang namanya profesional?

Baiklah teman, sekali lagi, jadi pegawai itu memang begitu deritanya, tapi bukan begitu cara mengakhiri yang baik. Bukannya saya membela bos atau apa, tapi setidaknya tunjukkan profesionalisme. Maaf kalau aku jadi kurang respek denganmu karena hal ini. Good luck...

Monday, November 15, 2010

Doa Ngiler Galaxy Tab

Yaaa Allah... berikanlah aku kemudahan rezeki agar aku bisa membeli ini:


Amiiiiiiiinnnnn......

Thursday, October 14, 2010

Jakarta Tak Lagi Di Hati

Setelah sekian lama aku nggak ke Jakarta, akhirnya minggu ini dapat kesempatan jaga pameran di Jakarta. Sesaat, seneng rasanya kalau di kota ini, seperti ada ikatan masa lalu yang tertinggal, soalnya aku masih menyimpan cita-cita untuk punya karir di sini.

5 tahun berselang dan kembali ke Jakarta aku masih excited. Tapi perasaan itu nggak lama, begitu keluar bandara langsung ambyar semua. Macet sana-sini, semrawut sana-sini, ah... lama-lama menguap juga cita-cita itu. Better aku tetap di Surabaya saja

Thursday, September 9, 2010

Masih Ada Patrol Sahur

Yippie... yipie... puasa hilang, lebaran datang...
Puasa itu buat aku ibaratnya sebuah tradisi yang paling memorable sepanjang hidup. Kapan lagi ada patrol keliling kampung yang bangunin warga kalo nggak pas puasaan, trus kapan lagi kita bisa mudik rame-rame kalo nggak pas puasa, kapan lagi juga kita bisa kirim-kirim kartu ucapan yang lucu-lucu kalau nggak pas puasa? Mudik juga pas puasa. Ah banyak deh pokoknya.

Tapi itu dulu teman-teman.
Dunia sekarang sudah berubah. Entah kenapa sejak beberapa tahun belakangan aku makin jarang denger patrol di lingkungan rumah. Alhasil, sering sahur mepet imsak. Lalu kemana kegaduhan itu sekarang? Sebenarnya kegaduhan itu makin dekat dengan kita tanpa disadari. Pindah ke dalam rumah kita sendiri, bahkan dalam kamar kita sendiri. Kegaduhan itu pindah ke sebuah alat yang namanya handphone, PDA, Blackberry ato apalah itu. Coba deh buka facebook, twitter, plurk, kalo pas lagi sahur. Mereka pada ribut. Ada yang bangunin temennya, ada yang bingung masak apa, ada yang tanya menu hari ini, bahkan ada yang main tebak-tebakan.Ribut di dunia mereka sendiri-sendiri.

Kupikir perubahan dunia ini juga menyentuh kota sekecil Blitar, 120 km dari Surabaya. Tapi ternyata tidak sodara-sodara, disini tetap ada patrol. Tapi lagi-lagi teknologi merubah partol yang dulu berjalan kaki pakai kentongan bambu. Sekarang mereka naik truk, bawa sound sistem gede dan... nyetel dangdutan!! Oh gosh... Aku yang lagi enak-enak tidur langsung njingkat.. kaget setengah mati. Bukan itu aja, masih ditambah pesta mercon yang rasanya gede-gede. Kegaduhan dalam arti sebenarnya selama 2 jam itu sukses bikin aku kancilen alias nggak bisa tidur lagi sampai pagi.

Eniwei, gimanapun caranya, ramadhan tetaplah ramadhan yang penuh suka cita dan disambut dengan berbagai cara. Dan saat meninggalkannya, kita disambut Idul Fitri yang selalu dinantikan. Selamat Idul Fitri, Mohon Maaf Lahir dan batin :)

Thursday, August 26, 2010

Orang Sombong Disayang Tuhan?

Tuhan, saya mau curhat.
Di sekitar saya ada 1 orang yang sombongnya amit-amit. Mungkin dia menyebutnya percaya diri, tapi kami menyebutnya sombong. Saya melihat, semua yang dia lakukan, dia percayai, sepertinya adalah benar. Tak ada orang yang sebenar dia di matanya.

Tapi entahlah Tuhan, kenapa Dirimu seperti membiarkan saja. Tegurlah dia, Tuhan. Kan Dirimu Maha Kuasa. Please Tuhan, lakukan sesuatu. Aku, dan beberapa orang sudah mulai terganggu dengan gayanya. Keharmonisan di lingkungan ini bisa terganggu kalau terus-terusan begini.

Maafkan aku Tuhan, kalau sampai aku punya pikiran "Orang Sombong Disayang Tuhan" karena aku tahu kalau sebenarnya sombong itu salah satu penyakit hati yang nggak seharusnya ada di dalam diri manusia. Lalu kenapa kesombongan ini nggak Kau hentikan saja, Tuhan? Kenapa orang seperti ini malah diberi promosi, malah diberi kesuksesan, malah diberi kekuasaan. Kenapa Tuhan? Please tunjukkan sesuatu yang membuktikan pikiranku ini salah.

Terima kasih Tuhan atas curhatnya, semoga ini cuman buruk sangkaku saja dan jauhkan aku dari sifat seperti itu.